oleh

Membiasakan Diri Tidak Meminta-minta

Oleh: Ust Aboy Maulana (*)

TENTUNYA, kita sering melihat peminta-minta. Kadang kita menyaksikan peminta-minta di sekitar rumah kita. Kadang kita menyaksikannya di salah satu sudut lampu merah ketika menumpang kendaraan umum atau mengendarai kendaraan pribadi. Kadang kita menemukannya di sudut pasar, pusat pembelanjaan dan tempat ramai lainnya. Peminta-minta populer kita sebut dengan pengemis. Satu hal yang tidak bisa kita elakkan, bahwa pengemis adalah bumbu bagi negara berkembang semacam negara kita tercinta.

Orang yang meminta-minta atau pengemis adalah mereka yang meminta sesuatu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Mereka meminta sedekah, derma atau pun sumbangan baik berupa uang, makanan maupun sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya. Pada dasarnya, kata peminta-minta atau pengemis diartikan sebagai sebuah ketiadaan atau tidak memiliki sesuatu yang dapat menunjang hidupnya. Dengan demikian, pengemis atau peminta-minta adalah mereka yang meminta karena tidak memiliki atau dalam keadaan fakir maupun miskin. Keadaan fakir atau miskin ini dapat dilatarbelakangi berbagai sebab diantaranya kelemahan fisik, baik karena cacat maupun usia lanjut.

Akan tetapi, apakah jadinya jika yang mengemis atau meminta-minta itu adalah mereka yang sebenarnya memiliki fisik sempurna dan secara usia masih produktif dan kuat untuk bekerja dan mencari nafkah. Tentunya, hal ini merupakan renungan bagi kita. Karena bagaimanapun yang pantas mengemis atau meminta-minta adalah mereka yang memiliki keterbatasan fisik dan usia. Terlebih, Islam juga mencela mereka yang gampang dan membiasakan diri untuk meminta-minta.

Islam adalah agama yang mengedepankan budaya kerja. Islam mencela mereka yang malas. Islam melarang umatnya untuk meminta-minta dan gampang mengemis. Sebaliknya, Islam menganjurkan untuk berikhtiar dengan segala daya dan kemampuan yang telah diberikan Allah SWT. Terlebih, ketika memiliki fisik sempurna dan usia serta tenaga yang prima.

Dalam sebuah hadis dijelaskan,  dari Abu Hurairah r.a. beliau berkata: Rasulullah saw. bersabda,”Sungguh, seorang dari kalian yang memikul kayu bakar dan dibawa dengan punggungnya lebih baik baginya daripada dia meminta kepada orang lain, baik orang lain itu memberinya atau menolaknya.”(H.R Bukhari)

Ikhtiar, berusaha dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup adalah kewajiban. Islam hanya memandang dan menghargai bahwa kerja itu lebih disyariatkan dan melaknat meminta-minta. Hanya saja Islam memberi batasan bahwa kerja harus dengan cara yang halal dan tidak sembarang bekerja (tidak memperhatikan halal-haram). Sekasar apapun kerjanya, tetap mendapat penghargaan dari Allah SWT, entah itu rida maupun pahala-Nya. Dengan demikian, bukanlah disebut seorang muslim sejati jika masih gampang meminta dan membiasakan diri mengemis.

Rasulullah SAW telah mengingatkan bahwa yaddus-‘ulyaa khairum-min yaddissuflaa (tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah). Memberi dilustrasikan dengan yaddus-‘ulyaa dan meminta/menerima pemberian digambarkan dengan yaddussuflaa. Sabda Rasulullah SAW ini memberi makna bahwa hendaklah kita memiliki sikap mandiri dan budaya kerja sekaligus melarang untuk bersikap malas dan meminta-minta.

Dalam hadis lain ditegaskan,“Sedekah itu tidak halal bagi orang yang tidak membutuhkan/al-ganii (orang kaya) dan juga bagi mereka yang memiliki kekuatan dan lengkap anggota badannya.” (HR. Abu Daud)

Untuk itu, marilah kita membiasakan diri untuk tidak gampang meminta-minta dan mengeluh dengan mengada-ngada. Mari kita hindarkan sikap mengemis-ngemis kepada siapa pun. Mari kita biasakan untuk menjadi pribadi yang mandiri, kuat dan semangat dalam mencari segala sesuatu yang bermanfaat untuk hajat hidup kita. Wallahu ‘Alam***

(*) Ketua IKPM Gontor Kabupten Bekasi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU