oleh

Maafmu adalah Emas

RASULULLAH SAW menegaskan dalam hadis dengan sanad yang kuat yang diriwayatkan Anas bin Malik,  “Setiap anak Adam itu mempunyai kesalahan dan sebaik-baik orang yang mempunyai kesalahan ialah orang-orang yang banyak bertobat.” (HR.Tirmizi dan Ibnu Majah) Hadis ini memberikan spirit bahwa ketika kita memiliki atau berbuat salah maka segeralah bertobat. Bertobat dapat dimaknai dengan meminta ampunan kepada Allah (istigfar) dan tentunya meminta maaf kepada orang yang menjadi korban perbuatan salah yang diperbuat. Dengan cara inilah kesalahan dapat terhapus dan dimaafkan. Dengan cara ini pula hati akan kembali bersih jauh dari kesal, marah dan dendam.

Meminta maaf tidak akan terlepas dari aktifitas memaafkan. Perkara ini memang bukan perkara mudah. Mungkin meminta maaf itu gampang, tetapi memaafkan ternyata lebih sulit. Apalagi kalau kesalahan yang diperbuat telah menjadikan hati terluka. Banyak orang yang enggan memberikan maaf ketika seseorang meminta maaf. Tidak sedikit orang terdetik ingin membalas kesalahan-kezaliman serupa sebagai refresentasi tidak mau memaafkan.

Allah SWT berfirman, “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barangsiapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zalim.” (QS. asy-Syura[42]:40) Ayat ini menjelaskan bahwa kejahatan itu dapat dibalas dengan kejahatan setimpal dan tidak berlebihan. Akan tetapi, jika memilih untuk tidak membalas dan memaafkan itu lebih baik dan lebih mulia. Hal ini sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW dalam berbagai fragmen kehidupan. Beliau selalu saja memaafkan kejahatan, kezaliman, dan kesalahan orang lain meski sudah di luar batas kemanusiaan. Tentunya, dalam hal ini kita patut berqudwah kepada Rasulullah SAW.

Meminta maaf itu baik tetapi memaafkan itu mulia. Meminta maaf itu berat tetapi memaafkan itu lebih berat. Jadilah orang yang gemar meminta maaf atas kesalahan yang diperbuat sekecil apapun dan jadilah orang yang mudah memaafkan kepada siapa dan sebesar apapun kesalahan yang orang perbuat.

Dalam hadis yang diriwayatkan  Iman al-Hakim suatu ketika Rasulullah SAW berkisah kepada para sahabatnya bahwa beliau diberitahu bahwa pada Hari Kiamat kelak ada dua orang yang bersimpuh di hadapan Allah sambil menundukkan kepala. Salah seorang dari keduanya mengadu kepada Allah atas kezaliman saudaranya yang duduk di sebelahnya. Ia mengadu agar Allah mengambil seluruh kebaikan yang ada pada orang yang telah menzaliminya. Allah tidak mengabulkan karena dalam diri orang tersebut (yang menzalimi) tidak ada satupun kebaikan. Kemudian, Allah menyuruh orang yang mengadu tersebut untuk mengangkat kepalanya. Setelah mengangkat kepalanya ia melihat di depannya ada istana-istana dari emas dan perak. Istana yang bertahtakan intan permata. Lalu, orang tersebut bertanya, untuk siapakah istana-istana itu ya Rabb? Allah menjawab, untuk orang yang mampu membayar harganya. Siapakah orang yang mampu membayar harganya ya Rabb? Allah menjawab, engkau mampu membayarnya. Dengan cara apa aku membayarnya ya Rabb? Allah menjawab, caranya engkau memaafkan kezaliman saudara yang duduk di sebelahmu. Orang itu pun berkata, ya Rabb kini aku memaafkannya.

Dengan demikian, tunggu apalagi? Segeralah meminta maaf dan berilah maaf kepada saudara yang telah berbuat salah, jahat dan zalim. Inilah momen yang tepat karena sebentar lagi Ramadan akan tiba. Ramadan adalah bulan suci yang harus dimasuki dengan hati yang suci. Hati yang meminta maaf dan hati yang senantiasa memaafkan. Hati yang seperti inilah yang kelak akan mendapatkan surga dengan istana emas bertahta intan permata. Wallahu ‘Alam***

(*) Direktur Eksekutif Insan Bekasi Madani (IBM)

(*) Caleg DPRD Kabupaten Bekasi Partai PAN Dapil III Tambun Selatan

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU