oleh

Sehatkah Ruhani Kita?

Oleh: Imam Nawawi (*)

 

MANUSIA secara empirik memang butuh makan, minum dan seperti pada umumnya makhluk ciptaan Tuhan di dunia ini, butuh terhadap tidur, tempat tinggal dan lain sebagainya. Sekalipun demikian, manusia adalah satu-satunya makhluk yang kala hidup di dunia, memiliki tugas utama, yakni sebagai hamba sekaligus khalifah-Nya.

Oleh karena itu, manusia dibekali kemampuan berpikir melalui akal dan hati dengan penglihatan dan pendengaran sebagai receiver. Kemampuan akal dan hati tidak akan berfungsi secara maksimal, manakala manusia hidup sebatas sebagai makhluk jasmani. Dan, melupakan eksistensi dirinya sebagai makhluk yang memiliki ruhani.

Penting dicatat di sini, ruhani merupakan esensi keberadaan manusia. Islam mengkategorikan orang yang cerdas, berpendidikan, menguasai sains dan teknologi, tetapi terlantar ruhaninya sebagai manusia jahil. Seperti yang terjadi di masa Nabi Muhammad diutus membawa risalah Islam.

Masyarakat kala itu disebut sebagai masyarakat jahiliyah. Itu bukan berarti, mereka bodoh, tidak memiliki keahlian. Mereka sangat canggih dalam soal dagang antar negara. Bahkan mereka cukup cerdas merangkai kata dalam bentuk karya sastra. Tetapi, ruhani mereka yang merana, meronta, dan semakin hari semakin tak berdaya.

Hari ini atau sering disebut era milenial bukan tidak orang cerdas, pintar dan ahli. Semua ada, bahkan penemuan beragam disiplin ilmu bisa lebih cepat di banding dekade atau abad sebelumnya. Tetapi persoalan mendasarnya adalah, manusia semakin jauh dari kebahagiaan. Satu sama lain saling memangsa, dengan beragam bentuk istilah dan praktik ekonomi dalam kehidupan.

Sebut saja kata investasi misalnya. Kata ini dalam pandangan ekonom sangat penting, tetapi apakah benar dalam tinjauan ruhani? Orang yang punya uang akan terus menerus membeli rumah di berbagai tempat atas nama investasi. Sementara sebagian orang, jangankan memiliki rumah, mengajukan kredit ke bank saja terus ditolak. Dalam situasi seperti ini, apakah investasi bukan praktik dari sebuah keserakahan?

Belum lagi kalau melihat fakta tidak sedikit perumahan yang baru dibangun kemudian banyak yang kosong dan rusak. Bukankah ini sebuah kemubadziran? Memang benar nilai tanah dari rumah itu akan terus meningkat. Tetapi, apakah membelanjakan harta dengan cara demikian sesuai dengan ajaran Islam?

Di sini kita mesti sejenak menarik nafas panjang, memikirkan kembali perihal diri sendiri, apakah ruhani terjaga kesehatannya, atau justru ruhani telah lama mati di dalam diri yang akal selalu sibuk melakukan kalkulasi keuntungan diri?

Mengeceknya mudah, tidak perlu ke rumah sakit jiwa. Cukup lihat perasaan hati kita kala berinteraksi dengan Al-Qur’an, apakah ada kerinduan, kecintaan, atau malah sebaliknya, keengganan dan kebosanan. Kemudian, jika mendengar panggilan adzan, apakah tergerak segera bangkit dan melangkah ke masjid, atau justru mengeluh. “Ah… adzan lagi.”

Meisil B Wulur dalam bukunya Psikoterapi Islam menuliskan, sehat ruhani adalah terhindarnya ruhani dari berbagai penyakit, seperti serakah, dendam, ambisius, sombong, dan apapun yang mendorong diri maksiat.*

(*) Penulis Buku Mindset Syurga

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU