oleh

Realistis Saja!

Oleh : Ust Aboy Maulana (*)

KEINGINAN adalah hal yang ada pada setiap insan. Keinginan merupakan bagian dari kehidupan. Ia adalah motor penggerak ide-ide kreatif dalam membangun dunia yang fana ini. Keinginan telah menggerakkan orang untuk bekerja, berusaha dan berkreasi dengan apa yang menurutnya bermanfaat bagi kehidupan. Namun, perlu diingat bahwa keinginan akan menciptakan sesuatu yang baik, jika keinginan tersebut realistis. Keinginan yang berbanding lurus dengan kemampuan yang dimiliki. Keinginan yang disertai kemungkinan-kemungkinan rasional yang tepat dan sepadan. Dari sudut inilah keinginan memberikan efek yang baik dan manfaat.

Akan tetapi, apa jadinya jika keinginan yang muncul dari khayalan belaka (keinginan khayali)?  Keinginan yang tidak didasarkan pada sumber daya yang ada. Keinginan yang tidak berpijak pada rasionalitas. Keinginan yang tidak sesuai dengan kemampuan dan fasilitas yang dimiliki. Keinginan yang tidak mungkin terjadi dan mustahil dilakukan. Meminjam kata Iwan Fals, Inilah keinginan yang menjadi “sumber penderitaan”. Ini pula keinginan yang senantiasa dibisikkan oleh setan. Allah SWT berfirman, “(Setan itu) memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu hanya menjanjikan tipuan belaka kepada mereka.” (QS. an-Nisa[4]:120)

Secara etimologi, setan berasal dari kata syatana dan syata. Kata syatana berarti jauh, asing, janggal dan tidak lumrah. Sementara kata syataa berarti hilang atau batalnya sesuatu. Dengan demikian, apapun yang datangnya dari setan adalah sesuatu yang janggal, tidak lumrah, akan lenyap dan batil. Semua itu adalah hal yang tidak rasional dan tidak realities, termasuk bisikan setan tentang keinginan.

Setan adalah makhluk yang dalam al-Quran digambarkan sebagai makhluk yang senantiasa berupaya untuk menggoda manusia. Mereka memiliki keinginan dengan segala tipu daya agar manusia tidak berada pada jalan yang benar. Mereka bersikeras dengan berbagai cara untuk melencengkan manusia agar tidak bertauhid kepada Allah. Ia bersemayam dalam benak, pikiran dan nafsu manusia. Ia mematik dan mengobarkan keinginan-keinginan yang tampak manis dalam pikiran manusia. Ia memicu sekaligus menciptakan angan-angan dan janji-janji palsu. Keinginan, angan-angan dan janji yang tidak mungkin bisa diupayakan alias tidak realistis.

Maka, alangkah berbahaya dan ruginya jika manusia terjebak dan terjerumus ke dalam perangkap setan. Orang yang terjebak dalam perangkap setan hidupnya akan menderita, hidupnya penuh dengan gelimang dosa. Hidupnya ibarat matinya, ia ada tetapi sesungguhnya tiada. Raganya memang ada tapi eksistensi hidupnya hilang dan lenyap. Hidupnya disiksa oleh keinginan-keinginan yang tidak realistis. Membuatnya merasa akan hidup seribu tahun, membuatnya merasa mampu mewujudkan keinginan nafsunya mengalahkan rasionalitas yang dimilikinya.

Islam tidak melarang pemeluknya berangan-angan. Islam juga tidak pernah mengebiri keinginan manusia. Namun, Islam mengajarkan dan memberikan batasan. Berangan-anganlah dengan yang rasional dan milikilah keinginan yang realistis. Tidak usah kejauhan, ketinggian, terlalu khayali, realistis saja! Wallahu ‘Alam***

(*) Ketua IKPM Gontor Kabupaten Bekasi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU