oleh

Nasib SDN Lambangjaya 02 Terkatung-katung

TAMBUN SELATAN – Kepala SDN Lambangjaya 02, Entin Rustini mengeluhkan kondisi sekolahnya yang belum ada kepastian dari Pemerintah Kabupaten Bekasi, lantaran dengan tindakan pihak Grand Wisata, yang memasang panel permanen dari pihak pengembang yang membuat keberadaan sekolah terisolir.

“Susah (untuk memperjuangkan lagi, red). Sudah mentok. Terakhir kita pernah duduk bareng dengan semua instansi yang terkait di kantor Asda. Tapi tidak ada titik temu,” keluh Entin.

Sekolah yang dibuat seperti sangkar burung itu, kini ditembok menggunakan panel secara permanen, agar tidak ada lagi aktivitas di sekolah yang sudah berdiri sejak belasan tahun tersebut. Yang lebih lucu lagi, kepala sekolah pun diperintahkan untuk mencari tanah baru.

“Malah kita disuruh nyari tanah Fasos atau fausm. Tapi kan di Lambangjaya mah kaga ada. Jadinya ya sudah udah deh pasrah. Tembok panel masih, malah sekarang mah dah dibenteng permanen,” jelas dia.

Diberitakan sebelumnya pada Tahun 2016 lalu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bekasi, MA Supratman mengatakan, SDN Lambangjaya 02 dibangun di tanah milik kas desa, sehingga tidak mudah melakukan relokasi.

“Prosesnya masih panjang, makanya itu harusnya minta pengembangnya langsung bangun saja,” kata dia

Mantan Kepala BPLHD tersebut meminta agar sekolah itu dibangun dilokasi yang berbeda tanpa ada ruislag oleh pengembang dengan pemerintah daerah. “Kalau minta direlokasi itu tanah kas desa, prosesnya beda lagi. Ada Permendagri yang mengatur,” tambah dia.

Terpisah Kepala desa Lambangjaya, Kimblan Syahroni, menyatakan bahwa awal tahun 2015, sudah dilakukan rundingan dengan warga masyarakat. Hasil dari rundingan tersebut, yakni warga menerima pemindahan asalkan sekolah masih berada di kawasan Desa Lambang Jaya, Kecamatan Tambun Selatan.

“Sebenarnya sudah lama diusulkan, namun hingga saat ini belum ada realsisasinya,” ujarnya, Selasa (29/03/2016).

Lanjut ia mengatakan, warga meminta agar pelaksanaan pembangunan segera dilaksanakan mengingat lokasi sekolah yang saat ini masih berada di tengah perkomplekan Grand Wisata. Apalagi, sampai saat ini pihak sekolah yang seolah-olah tersembunyi tersebut masih belum jelas nasibnya.

“Wacana relokasinya pun terbilang masih abu-abu karena belum adanya kesepakatan antara pengembang dan pemerintah daerah,” tuturnya.

“Tinggal dari jajaran atas, bagaimana solusinya. Tapi, hingga saat ini aktifitas belajar mengajar masih berjalan normal,” tambahnya. (*/amh)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

TERBARU